Snow World
Gak heran kalau
kami sama-sama ingin bermain di sana. Ica memulai aksi dengan menanyakan harga
tiket untuk bermain di Snow World. Akhirnya kami sepakat untuk menikmati
kehidupan di dalam sana. *apasih,,
*jika gambar tidak jelas, ya sudah biarkan
saja,,jika ingin tau harga tiketnya, silahkan berkunjung langsung* ^_-
Sebanyak yang tertera di kertas putih itulah uang yang harus
dikeluarkan sebelum menikmati kehidupan di Snow World. Demi menikmati dunia
tersebut, kami bersedia membayarnya. Maklum Indonesia merupakan daerah tropis.
Jadi, tidak ada salju yang ingin menjatuhkan diri di tanah airku Indonesia
(*apakah ini lirik lagu wajib?*).
Sebelum bermain di dalam, pengunjung diharuskan memakai
pakaian sepatu dan atribut lainnya yang sudah di sediakan. Ukurannya dapat
disesuaikan dengan tubuh masing-masing. Selain itu, dilarang membawa Handphone
atau Telepon Bimbit saat memasuki Snow World. Awalnya kami kecewa, ada
keinginan untuk mengabadikan moment di dalam sana. Namun, peraturan tetap
peraturan.
Keinginan mengabadikan moment tidak kandas begitu saja, di dalam ada si abang
tukang foto, hmm. Tapi jangan lupa di
bayar kalau mau fotonya sampai di tangan kita. Itu strategi namanya. Pintar !.
Tapi, kami lebih pintar, hahaha, tau kan teman aku yang bernama Edriny Nur
Fadla, punya keahlian dalam mengambil foto apapun dan siapapun tanpa di ketahui
yang bersangkutan. Walaupun hasilnya tidak sama dengan aslinya, tidak masalah,
yang terpenting fotonya ada. Namun ada beberapa foto yg bisa di ambil, tapii di luar, alias di depan rumah.

Seru !!!! , itu yang terucap saat keluar dari zona tersebut. Hah ! masih banyak tenaga yang tersisa untuk menjelajah tempat ini. Namun ini sudah saatnya untuk pulang jika tidak ingin ketinggalan bus untuk yang kedua kalinya. hemm,, Anyeong Genting !.
Syukurlah, walau sedikit berlari-lari, kami tidak ketinggalan bus. Kali ini saya duduk di samping Siska. Siska yang sedikit sediki pusing. Yap, aroma bus dan perjalanan kembali ke KL Sentral, membuat perutnya bereaksi aneh, kemudian ingin memuntahkan sesuatu. Aku panik, sangat ingin membantu, namun tidak tau harus menampung muntahnya dengan apa. Siska terus berkata padaku "Siska mual, mau muntah". Aduhh, biasanya bisa menggunakan asoi. tapi ini, mana ada. Sejenak terdiam kemudian menatap Taro yang bungkusnya aku pikir cukup besar untuk Siska, eh untuk ***tah nya. Demi menyelamatkan penumpang bus dan demi Siska. Aku menghabiskan satu bungkus Taro ukuran besar, dalam tempo yang sesingkat singkatnya. oh God !!. Luar Biasa. Perjuangan menghabiskan itu membuat aku juga ikut-ikutan mual. Namun keadaan Siska lebih penting dari itu.
Siska menerima dengan senang hati, "makasi Fika," ucapnya sambil tersenyum. hmm, aku membalas senyum Siska. Lima menit pertama setelah aku memberikan pada Siska, tidak ada reaksi apa-apa. Siska masih tetap menggenggam utuh. Sial !!! hingga perjalanan ke KL Sentral lalu kembali lagi ke Bukit Bintang, Siska tidak muntah sedikit pun. Tapi aku sudah menghabiskan..,, hiks.
Karena sudah larut malam, kami bergegas makan malam dan kembali beristirahat untuk perjalanan besok.
Anyeong !!!!



- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact