Saturday, February 22, 2014 1 comments

"No Guide, No Cry" @Kuala Lumpur (Day 2) "Part 2"

Snow World



Gak heran kalau kami sama-sama ingin bermain di sana. Ica memulai aksi dengan menanyakan harga tiket untuk bermain di Snow World. Akhirnya kami sepakat untuk menikmati kehidupan di dalam sana. *apasih,,


 *jika gambar tidak jelas, ya sudah biarkan saja,,jika ingin tau harga tiketnya, silahkan berkunjung langsung* ^_-

Sebanyak yang tertera di kertas putih itulah uang yang harus dikeluarkan sebelum menikmati kehidupan di Snow World. Demi menikmati dunia tersebut, kami bersedia membayarnya. Maklum Indonesia merupakan daerah tropis. Jadi, tidak ada salju yang ingin menjatuhkan diri di tanah airku Indonesia (*apakah ini lirik lagu wajib?*).

Sebelum bermain di dalam, pengunjung diharuskan memakai pakaian sepatu dan atribut lainnya yang sudah di sediakan. Ukurannya dapat disesuaikan dengan tubuh masing-masing. Selain itu, dilarang membawa Handphone atau Telepon Bimbit saat memasuki Snow World. Awalnya kami kecewa, ada keinginan untuk mengabadikan moment di dalam sana. Namun, peraturan tetap peraturan.

Keinginan mengabadikan moment tidak kandas begitu saja, di dalam ada si abang tukang foto, hmm. Tapi jangan lupa di bayar kalau mau fotonya sampai di tangan kita. Itu strategi namanya. Pintar !. Tapi, kami lebih pintar, hahaha, tau kan teman aku yang bernama Edriny Nur Fadla, punya keahlian dalam mengambil foto apapun dan siapapun tanpa di ketahui yang bersangkutan. Walaupun hasilnya tidak sama dengan aslinya, tidak masalah, yang terpenting fotonya ada. Namun ada beberapa foto yg bisa di ambil, tapii di luar, alias di depan rumah. 




















Seru !!!! , itu yang terucap saat keluar dari zona tersebut. Hah ! masih banyak tenaga yang tersisa untuk menjelajah tempat ini. Namun ini sudah saatnya untuk pulang jika tidak ingin ketinggalan bus untuk yang kedua kalinya. hemm,, Anyeong Genting !. 

Syukurlah, walau sedikit berlari-lari, kami tidak ketinggalan bus. Kali ini saya duduk di samping Siska. Siska yang sedikit sediki pusing. Yap, aroma bus dan perjalanan kembali ke KL Sentral, membuat perutnya bereaksi aneh, kemudian ingin memuntahkan sesuatu. Aku panik, sangat ingin membantu, namun tidak tau harus menampung muntahnya dengan apa. Siska terus berkata padaku "Siska mual, mau muntah". Aduhh, biasanya bisa menggunakan asoi. tapi ini, mana ada. Sejenak terdiam kemudian menatap Taro yang bungkusnya aku pikir cukup besar untuk Siska, eh untuk ***tah nya. Demi menyelamatkan penumpang bus dan demi Siska. Aku menghabiskan satu bungkus Taro ukuran besar, dalam tempo yang sesingkat singkatnya. oh God !!. Luar Biasa. Perjuangan menghabiskan itu membuat aku juga ikut-ikutan mual. Namun keadaan Siska lebih penting dari itu. 

Siska menerima dengan senang hati, "makasi Fika," ucapnya sambil tersenyum. hmm, aku membalas senyum Siska. Lima menit pertama setelah aku memberikan pada Siska, tidak ada reaksi apa-apa. Siska masih tetap menggenggam utuh. Sial !!! hingga perjalanan ke KL Sentral lalu kembali lagi ke Bukit Bintang, Siska tidak muntah sedikit pun. Tapi aku sudah menghabiskan..,, hiks. 

Karena sudah larut malam, kami bergegas makan malam dan kembali beristirahat untuk perjalanan besok.

Anyeong !!!!



           


Thursday, February 20, 2014 0 comments

Kopi !

Terlalu terburu-buru, ia sudah tidak sabar ingin menikmati segelas kopi. Padahal airnya masih belum panas. Tapi tetap saja ia menuangkan air kedalam gelas yang di genggamnya dan berharap kopi itu akan nikmat saat diminum.
Bagaimana mungkin nikmat hanya dengan air hangat. Tidak akan melarutkan kopinya. dan benar ! ampasnya mengapung diatas air, mengganggu pemandangan, jika dilihat, tidak layak untuk diminum.

Namun, Ia tetap percaya, kopi ini akan nikmat bahkan lebih nikmat dengan air hangat yang dituangkannya, dibandingkan dengan air panas. Ia terus mengaduk menggunakan sendok kecil, terus mengaduk dengan sabar, lagi dan lagi. Tentu saja dengan wajah penuh harap, kopi ini akan lebih nikmat dengan air hangat.

Waktunya lebih lama dibanding dengan air panas. Tapi dengan kesabarannya, segelas kopi nikmat sudah di genggamnya. Membuat lebih tenang saat meminumnya, juga lebih nyaman hingga ia tidak perlu takut bibirnya terluka. Seperti saat meminum kopi dengan air panas. Bagaimana mungkin bisa terluka, air itu tidak panas, tetapi hangat.

Campuran kesabaran dan kehangatannya, menyatu kedalam segelas kopi yang di aduknya. Ia makin terlihat hangat saat meminum kopi yang di aduk dengan air hangat, dalam waktu yang lama, serta dengan kesabarannya.


Selamat malam kopi !
Terima Kasih atas kunjungan anda di princesscarfi.blogspot.com
 
;