Wajar
orang tua berharap anaknya berhasil di kemudian hari. Namun, kapasitas anak
sering terlupakan. Sering terjadi, orang tua cenderung memaksakan kehendak agar
harapan itu terwujud. Prestasi akademis misalnya, orang tua selalu berharap si
anak meraih nilai yang baik di sekolah. Namun orang tua cenderung tidak
memperhatikan kondisi anak mereka. Banyak hal yang menyebabkan depresi, salah satunya
adalah tuntutan berlebihan orang tua pada remaja, terutama bagian akademis.
Remaja
berasal dari bahasa latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi
dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup
kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja
sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan
anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Masa remaja adalah masa
peralihan, yang ditempuh oleh seseorang dari anak-anak menuju dewasa. Atau
dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum
mencapai masa dewasa. Anak-anak, belum dapat
hidup sendiri, belum matang dari segala segi, tubuh masih kecil, organ-organ
belum dapat berfungsi secara sempurna, kecerdasan, emosi dan
hubungan social belum selesai pertumbuhannya. Hidupnya masih bergantung pada
orang dewasa, belum dapat diberi tanggung jawab atas segala hal dan mereka
menerima kedudukan seperti itu.
Masa
remaja merupakan titik kritis dalam hal prestasi. Tekanan sosial dan
akademis memaksa remaja untuk memegang berbagai peran, yang sering kali
melibatkan tanggung jawab yang lebih besar. Di masa remaja, prestasi menjadi
persoalan yang lebih serius dan juga remaja mulai memandang keberhasilan dan
kegagalan saat ini sebagai gambaran keberhasilan dan kegagalan di masa depan. Seiring dengan meningkatnya tuntutan yang diberikan pada remaja,
berbagai hal dalam kehidupan mereka mengalami benturan satu sama lain. Bisa
jadi minat sosialnya dapat berkurang karena mereka harus mengerjakan
tugas-tugas akademis atau ambisi di salah satu hal harus dikurangi karena harus
mencapai tujuan lainnya, misalnya prestasi akademik mengiringi penolakan
sosial.
Para
peneliti menemukan bahwa memberikan sejumlah pilihan dan memberikan kesempatan
untuk memikul tanggung jawab personal dapat meningkatkan motivasi dan minat
instrinsik dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. Lain halnya yang akan terjadi
jika tuntutan terhadap anak remaja terlalu berlebihan, orang tua hanya
mengharapkan hasil yang terbaik atau bahkan hasil paling baik yang dapat
dicapai oleh anak remajanya, juga menginginkan anak remajanya lebih baik dari
remaja lain. Hal ini akan membuat anak merasa tertekan akan tuntutan yang
terlalu menuntutnya untuk menjadi sosok yang sempurna. Anak akan merasa harus
berkompetisi untuk menempati posisi yang sempurna. Kompetisi yang terjadi akibat
tekanan ini akan membuat anak menjadi sulit memahami pilihan pribadinya.
Pemahaman
yang sulit terhadap pilihan pribadi atau keinginan pribadinya akan membuat anak
putus asa untuk menjalankan kegiatan sehari-hari. Ia merasa tujuannya hanya
untuk menjadi sosok yang sempurna, untuk mengikuti apa yang diharapkan oleh
orang tuanya. Peranan orang tua atau pendidik sangat besar dalam memberikan
alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh anak-anaknya. Orang tua
yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja
itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Orang tua yang tidak
mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang
remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran
orang tua dan nilai yang dianutnya.
Kemudian
anak remaja tersebut akan mengalami depresi, yaitu keadaan kemurungan
(kesedihan, patah semangat) ditandai dengan perasaan tidak pasti, menurunnya
kegiatan dan pesismis menghadapi masa yang akan datang. Ketidakmampuan dan
keputusasaan anak remaja untuk mencapai tuntutan yang berlebihan tersebut akan
membuat depresi sang anak semakin parah sehingga besar kemungkinan sang anak
akan menurun kapasitas dirinya dan perkembangan dirinya pada masa remajanya.
Kesimpulannya, keluhan orang tua tentang
akademik dan tuntutan berlebihan yang menginginkan anak remajanya menjadi lebih
sempurna dibandingkan remaja lain akan membuat anak merasa tertekan. Tekanan
yang tidak bisa di toleransi oleh anak (remaja) di dalam dirinya, akan
mengakibatkan si anak (remaja) mengalami depresi.

0 comments:
Post a Comment